Pages

Senin, 24 Maret 2014



TEORI EKOLOGI BRONFENBRENNER
Teori ekologi dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917-) yang fokus utamanya adalah konteks sosial dimana anak tinggal dan orang-orang yang mempengaruhi perkembangan anak.


Lima Sistem Lingkungan
Teori ekologi Bronfenbrenner terdiri dari lima sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai ke pengaruh kultur yang lebih luas. Bronfenbrenner menyebut sistem-sistem itu sebagai mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan kronosistem.

  • Mikrosistem adalah setting dimana individu menghabiskan banyak waktu. Beberapa konteks dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah dan tetangga. Dalam mikrosistem ini, individu berinteraksi langsung bukan sebagai penerima pengalaman pasif. Tetapi adanya hubungan timbal balik dengan orang lain dalam mengkontruksi setting tersebut.

Contoh : Sejak lahir hingga sekarang saya tidak pernah terlepas dari lingkungan keluarga. Selama hidup saya menghabiskan waktu dengan keluarga. DI rumah saya tinggal bersama Ayah, Ibu, dua saudara laki- laki saya. Bukan hanya itu, di lingkungan tempat tinggal saya, saya juga mempunyai tetangga. Layaknya keluarga, saya dan tetangga saya hidup rukun dan saling membantu dalam segala hal. Selain lingkungan rumah, hampir selama hidup saya dihabiskan dengan bersekolah. Di sekolah saya dapat berinteraksi secara langsung dengan orang banyak. Baik dengan teman sebaya, guru-guru, penjaga sekolah, pegawai sekolah, penjaga kantin, dan banyak lagi. Di sekolah saya bukan hanya belajar mengenai mata pelajaran yang diberikan guru, tetapi saya juga belajar untuk bersosialisasi dengan orang lain secara langsung.

  • Mesosistem adalah kaitan antar mikrosistem. Salah satu mesosistem yang penting adalah hubungan antara sekolah dan keluarga.

Contoh : Dikeluarga saya, orang tua saya memberikan kebebasan untuk mengeluarkan pendapat, kebebasan untuk berbicara, dan tetap diajarkan cara bersikap dan berbicara yang baik dengan orang lain maupun orang yang lebihb tua dari kita. Oleh karena telah didasari keberanian yang berasal dari keluarga, di sekolah saya cukup dikenal oleh guru dan teman-teman saya dalam hal berani mengungkapkan pendapat dan berbicara di depan umum. Adanya didikan yang positif dari keluarga mengakibatkan adanya dorongan yang positif pula dari dalam diri untuk meraih prestasi. Dulu saya pernah menjadi anggota OSIS di sekolah. Dan mendapat jabatan sebagai ketua seksi di bidang keagamaan. Selain itu, saya juga sering bertugas dalam upacara bendere. Baik itu sebagai protokol, anggota paduan suara, pembaca undang- undang dan lain- lain. Dan jika ada event yang dilaksanakan oleh sekolah saya juga turut berpartisipasi. Pengalaman yang seperti itu jugalah yang akan menjadi bekal saya di lingkungan yang akan saya jejaki selanjutnya. Selalu berkesinambungan antara lingkungan yang satu dengan yang lainnya.


  • Eksosistem terjadi ketika pengalaman di setting lain (di mana murid tidak berperan aktif) mempengaruhi pengalaman individu dalam konteks mereka sendiri.


Contoh : Di setiap sekolah pada umumnya pasti memiliki perpustakaan. Perpustakaan merupakan salah satu dari sekian banyak fasilitas yang disediakan oleh sekolah untuk membantu mengembangkan kemapuan anak murid. Oleh sebab itu ada baiknya jika perpustakaan di bawah pantauan dan izin dari kepala sekolah untuk dapat memasukkan buku-buku bacaan baru, sehingga pengetahuan siswa- siswa terus berkembang melalui buku- buku yang ada di perpustakaan tersebut. Oleh sebab itu petugas pengawas perpustakaan juga memegang peran yang kuat dalam menentukkan kualitas sekolah bahkan kualitas siswa- siswa. Dan pegawai perpustakaan juga mempunyai kewajiban dalam menata ruangan perpustakaan sehingga menimbulkan minat baca para siswa.


  • Makrosistem adalah kultur yang lebih luas. Kultur adalah istilah luas yang mencakup peran etnis dan faktor sosioekonomi dalam perkembangan anak. Kultur adalah konteks terluas di mana individu tinggal, termasuk nilai adat dan istiadat masyarakat.


Contoh : Indonesia terdiri beragam suku dan budaya. Salah satunya suku Batak Karo. Saya berasal dari keluarga Batak Karo. Di dalam kebudayaan Karo sangat terkenal dalam hal bermusyawah. Dalam bahasa Karo dikenal dengan kata “runggu”. Apapun itu harus di bicarakan dan diambil keputusannya bersama. Adanya pencapaian kesepakatan bersama dilakukan dengan bermusyawarah. Tujuannya untuk menjauhkan perpecahan antar individu tersebut. Seperti contohnya pada saat acara adat orang meninggal, dilakukan musyawarah untuk menentukkan kapan, dimana, dan bagaimana acara itu dilaksanakan. Dan hal tersebut telah dilakukan mulai dari zaman dulu hingga sekarang.
Bukan hanya itu, anak gadis pada suku karo sangat dituntut untuk rajin. Hal itu karena pada saat dia nanti berkeluarga dialah yang mengambil banyak peran dalam pekerjaan rumah tangga. Oleh karena itu, sejak dari kecil anak perempuan dalam suku karo sudah di didik untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Seperti dalam falsafah orang karo seorang perempuan yang sudah menikah diharapkan sama seperti indung manuk (sama seperti induk ayam). Maksudnya, seekor induk ayam akan mendidik anaknya untuk dapat hidup mandiri dan seekor induk ayam akan melindungi anaknya dari segaal ancaman bahaya. Sebelum anaknya bisa mendapatkan makanannya sendiri, sang induk megais mencari makana untuk anaknya. Setelah ia menemukan makanan itu ia akan memanggil anak- anaknya untuk memakan makanan itu.
Dalam aspek sosioekonomi kekayaan yang dimiliki oleh seorang individu juga berpengaruh dalam perkembangannya. Misalnya seorang anak yang orang tuanya berpenghasilan menengah ke atas cendrung lebih malas dibandingkan anak yang penghasilan orang tuanya menengah kebawah. Hal itu karena semua hal yan diingininya cendrung sudah dipenuhi oleh orang tuannya tanpa harus melakukan suatu usah untuk mendapatkannya. Sedangkan anak yang orang tuanya mempunyai penghasilan menengah ke bawah cendrung lebih rajin dan cendrung menjadi pekerja keras karena untuk mendapatkan hal yang dia inginkan dia harus melakukan usaha.


  • Kronosistem adalah kondisi sosiohistoris dari perkembangan anak.



Contoh : Pada saat saya masih kecil permaianan yang berbau elektronik sangat sedikit. Permainan yang dimainkan cendrung permainan yang memanfaatkan benda- benda yang berada disekitar pekarangan rumah. Misalnya permainan batu lima, masak- masakan, engklek, dan masih banyak lagi. Tetapi seiring berkembangnya zaman, permainan yang seperti itu sedikit demi sedikit menghilang. Pada zaman sekarang anak- anak lebih suka bermain dekat alat elektroniknya dibanding bermain diluar bersama teman- temannya. Pada umumnya anak pada zaman sekarang diberi gadget oleh orang tuanya. Oleh karena itu, adanya sosialisasi yang kurang pada anak zaman sekarang dibandingkan anak- anak pada saat saya masih kecil dulu. Kalau pada saat dulu, hampir semua anak- anak lebih memilih bermain diluar rumah bersama teman- temannya dibandingkan bermain di dalam rumah dengan mainannya sendiri. Hal itu lah yang menyebabkan tingkat perkembangan sosial anak terhambat.

Teori yang dibahas : Teori Bronfenbrenner
Kelompok 3
Ketua : Agita Purba (13-044)
Anggota : Sri Hasyuni (13-016)
               Novita Lubis (13-022)
               Lely (13- )
               Ice Kristina (13-124)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar