Pages

Sabtu, 19 April 2014

LAPORAN KELOMPOK I
Ketua  : 1. Agita Nova Purba (131301044) 13044anp.blogspot.com
Anggota :2. Sri Hasyuni  (131301016) http://shasyuni.blogspot.com
         3. Novita Sari Lubis  (131301022) 13022opi.blogspot.com
         4. Leli Febrina Rosa  (131301100) 13100lfrs.blogspot.com
         5. Ice Kristiana S.  (131301124) 13124iks.blogspot.com


Evaluasi terhadap Kinerja Kelompok

Tugas observasi sekolah ini merupakan tugas Psikologi Pendidikan yang pertama kali melibatkan kami terjun ke lapangan. Saat diberikan tugas ini setelah mata kuliah selesai kami langsung mendiskusikan sekolah mana yang akan kami observasi dan setelah berdiskusi kami sepakat dengan SMP Putri Cahaya. Kami langsung membuat surat izin dan menetukan kapan observasi akan dilaksanakan.. Seminggu sebelum observasi beberapa orang perwakilan kelompok mengunjungi sekolah yang akan diobservasi untuk menanyakan keizinan mereka terhadap observasi kami. Kami juga menyiapkan beberpa pertanyaan, soevenir/hadiah, KTM, beberapa alat perekam (seperti : hp dan kamera) dan tak lupa membawa almamater yang kami pinjam dari beberapa kakak senior.
Kami pergi bersama-sama dengan mengendarai angkot dan becak, akhirnya kami sampai di sekolah tujuan kami yaitu SMP Putri Cahaya Medan. Di sana kami juga harus melapor ke satpam dulu atas kedatangan kami. Lalu kami bertemu kepala sekolah SMP ini untuk meminta izin sekaligus menanyakan kelas mana yang akan kami observasi. Disana kami membagi tugas, ada yang observasi di dalam kelas dan ada juga yang mendokumentasi kan fasilitas sekolah juga mewawancarai murid, guru, dan kepala sekolah. Pada saat kami datang, les pembelajaran sudah mulai berakhir jadi kami harus menunggu beberapa menit untuk les pembelajaran selanjutnya. Sementara itu, beberapa dari kami memantau lokasi dan memotret sarana dan prasarana yang ada. Tak lama kemudian kami diperbolehkan masuk.
Pada saat itu kami masuk ke kelas VII 5 yang sedang belajar pkn, kelas yang sangat antusias dan aktif. Observasi pada kelas VII 5 menghabiskan waktu selama 60 menit. Kami juga berkesempatan masuk ke lab bahasa yang pada saat itu ada pembelajaran di dalamnya. Kami berhasil mewancarai satu orang siswa dan satu orang siswi seputar permasalahan pembelajaran dan  juga mewancarai kepala sekolah SMP Putri Cahaya seputar metode pembelajaran dan kepuasan kerja para guru. Kami juga diajak berkeliling oleh ketua OSIS untuk mendokumentasikan beberapa foto sarana dan prasarana sekolah yang belum sempat terjelajahi. Setelah merasa observasi kami lengkap kami bergerak pulang.
Analisis dengan Teori Belajar dan Teori Perkembangan
            Teori Albert Bandura
·         Self-efficacy
Menurut Bandura self-efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuan mereka akan mempengaruhi cara individu dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu. Jadi pada saat melakukan observasi kami harus yakin kalau kami bisa menyelesaikan tugas observasi sekolah ini dengan baik dan dapat menempatkan diri kami dengan tepat.

Teori Lev Vygotsky
·         Dalam teori ini terdapat yang namanya zone of proximal development (ZPD) yaitu serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai seseorang secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Dan ketika kami melakukan observasi di sekolah ini, teori ini terlaksanakan karena dosen juga sudah menerangkan terlebih dahulu proses dan tahapan observasi serta pengumpulan tugas dan jika masih belum paham kami juga diberi kesempatan untuk bertanya kepada dosen psikologi pendidikan. Dan kami juga saling membantu dalam menguasai tahapan observasi dan pengumpulan hasil-hasil observasi.
                       
§  Scaffolding yaitu dukungan sementara dari pihak luar sampai anak dapat mengerjakannya sendiri. Pada saat mata kuliah berlangsung dosen juga menanyakan apa yang belum dimengerti pada observasi dan mengingatkan kami untuk segera menngurus surat perizinan observasi ke sekolah-sekolah.

·         Bahasa dan pemikiran juga terlihat di dalam diskusi kelompok kami, kami memikirkan pertanyaan apa yang harus diajukan dan menyusun bahasa formal yang seuai. Pada pengumpulan hasil observasi kami juga melakukan hal yang sama.

Teori Skinner (Operant Conditioning)                  
·         Reinforcement Positive
Terjadi ketika dosen akan meberikan nilai yang semakin baik jika hasil observasi semakin tajam dan banyak yang dianalisis. Ini membuat kami berlomba-lomba untuk menampilkan hasil yang lebih tajam
·         Reinforcement Negative
Terjadi ketika adanya pembatasan terhadap tugas (deadline) kami dimana mungkin apabila waktu batasnya habis, tugas kami tidak akan diterima lagi sehingga kami menghargai waktu dan membiasakan kami untuk tepat waktu terhadap hasil kerja dan tidak mengecewakan orang lain.
·         Punishment
Para mahasisiwa yang tidak mengerjakan tugas tidak akan mendapatkan nilai apapun dan akan berdampak pada nilai yang akan diterimanya pada semester ini. Dengan adanya hukuman ini membuat mahasiwa sadar dengan kewajibannya.

Teori Kohlberg
·         Post conventional reasoning
Pada fase ini seseorang menentukan kode moral etik yang terbaik baginya. Pada saat observasi kelompok kami juga mengedepankan kode etik dan moral. Dari mulai meminta perizinan, etika dalam berpakaian dan berbahasa.
Evaluasi terhadap Hasil Observasi di Kelas
      Profil Kelas
Kelas VII 5
Wali Kelas                   : Lilis Hestiani Simanjuntak
Ketua Kelas                : Francius Bertan Nababan
Jumlah Siswa              : 40 orang
Jenis Kelas                  : Reguler
      Lama Observasi          : 90 menit
Kelas VII terletak di bagian depan sekolah, dekat dengan gerbang sekolah. Di dalam kelas terdapat satu white board, kemudian meja dan kursi yang tersusun terlalu rapat dan agak sesak, begitu juga dengan meja guru yang sangat rapat dengan meja siswa. Lalu di meja guru terdapat vase bunga sebagai penghias. Terdapat mading kecil di sebelah white board yang berisi jadwal piket dan lain sebagainya. Sebagai pendingin ruangan terdapat kipas dan AC. Lalu juga terdapat kalender di dalam kelas.
Dari hasil pengamatan kami mengenai proses belajar-mengajar di kelas, komunikasi antara guru dan siswa sangat baik. Siswa terlihat aktif dalam kelas dan guru juga memberikan respon dengan baik, keduanya saling berbaur. Dalam proses pembelajaran guru dan murid terlihat semangat. Guru berbicara dengan jelas sehingga siswa mudah menangkap.
Di sela-sela pengajarannya guru memberikan sedikit joke dan siswa terlihat semakin tertarik dan menjadi tidak bosan. Pandangan siswa tertuju pada guru walaupun ada juga sebagian murid yang seperti acuh tak acuh dan kurang tertarik. Saat guru memberikan pertanyaan mereka juga berlomba dalam menjawab.

Analisis Proses Belajar-mengajar dengan Teori Belajar
 Teori Lev Vygotsky
      Dalam teori ini terdapat yang namanya zone of proximal development (ZPD) yaitu serangkaian tugas yang terlalu sulit dikuasai anak secara sendirian tetapi dapat dipelajari dengan bantuan orang dewasa atau anak yang lebih mampu. Dan ketika kami mengamati proses belajar mengajar di kelas, teori ini terlaksanakan karena ketika guru memberi soal, guru tersebut menjelaskan terlebih dahulu baru siswa mengerjakan sendiri dan jika masih belum paham boleh bertanya kepada temannya yang sudah paham.
                       
      Lalu juga terdapat Scaffolding yaitu dukungan sementara dari pihak luar sampai anak dapat mengerjakannya sendiri. Di dalam kelas terlihat dukungan dari sang guru ketika anak mengerjakan soal, seperti menanyakan hal yang masih tidak dipahami lalu dijelaskan kembali sampai anak tersebut benar-benar paham dan bisa menyelesaikan sendiri.
      Lalu tentang bahasa dan pemikiran juga terlihat di dalam kelas, ketika guru bertanya mereka berlomba untuk menjawab, dan saat menjawab mereka berpikir apa kata-kata yang harus disampaikan agar jawabannya benar. Ada yang terlihat terbata-bata namun ada juga yang lancar dalam menjawab.

Teori Erikson
Observasi terhadap guru SMP Putri Cahaya
      Dalam mengajar, guru menggunakan kurikulum yang ada dengan metode pengajaran yang masing-masing berbeda pada tiap guru.
      Guru mengajar mengikuti perkembangan teknologi        memotivasi usaha belajar anak
      Menyediakan guru BP yang akan membantu anak dalam mengeksplorasi identitas diri.
      Masing-masing guru mempunyai cara mengajar berbeda dengan satu tujuan    bagaimana anak dapat berkompetisi.
      Membuat diskusi kelompok dalam pengajaran untuk membantu anak lebih berani dalam mengeluarkan pendapatnya.
      Membentuk karakter anak melalui pembelajaran moral; agama dan muatan lokal; PKN.
      Mengkaji kreativitas siswa melalui kegiatan enterpreneurship
      Guru sebagai pusat belajar tetapi pada situasi tertentu guru sebagai pendorong anak.
      Perubah kurikulum memengaruhi cara mengajar guru        membuat pelatihan kepada guru.

Teori Skinner (Operant Conditioning)                  
·         Reinforcement Positive
Terjadi ketika anak-anak yang diobservasi diberikan pertanyaan oleh gurunya, dan gurunya berjanji memberikan nilai tambah jika ada anak yang bisa menjawab pertanyaan guru tersebut. Pada akhirnya pemberian nilai tambah ini membuat peningkatan respons anak-anak anak bertambah dalam memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
·         Reinforcement Negative
Terjadi ketika kelas ribut dan guru tersebut akan mengurangi nilai ketika anak-anak yang diobservasi tersebut masih tidak mau diam. Dengan pengurangan nilai tersebutanaak-anak itu kemudian diam dan kembali memperhatokan guru yang sedang mengajar dengn seksama.
·         Punishment
Seorang anak tidak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Sehingga guru yang sedang mengajar di kelas itu memberikan hukuman yaitu agar anak tersebut berdiri  di depan kelas selama jam pelajaran berlangsung. Hukuman ini diberikan agar anak itu di hari berikutnya dapat mengerjakan pekerjaan rumahnya.

Teori Piaget
§  Tahap Operasional Formal
Sejak umur 11 tahun, anak sudah memasuki tahap operasional formal. Pada tahap ini, individu dapat berfikir secara lebih abstrak, idealis dan logis.
Murid pada awal tahap operasional formal :
      Berdiskusi mencari pemecahan masalah
      Aktif berinovasi
      Membayangkan kemungkinan-kemungkinan
Karena Hypothetical Deductive Reasoning

            Saat teori ini diaplikasikan dalam kelas, kami melihat guru memberi pertanyaan, kemudian banyak murid yang mengangkat tangan dan menebak-nebak jawaban dari soal tersebut. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan anak pada tahap operasional formal, yaitu : menyusun hipotesis dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar